PAKU DAN BEKAS PAKU
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali dia marah... Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu semakin berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah hari dimana anak itu merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah. Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah dicabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku... Tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain..." "Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu... Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap berbekas. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik..." Berhati-hatilah kita dengan perkataan dan amarah.
Kata firman Tuhan: “Perhatikanlah ini baik-baik, Saudara-saudara yang tercinta! Setiap orang harus cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara dan lambat untuk marah” (1). Hal ini mutlak penting bagi orang Kristen dan hamba Tuhan. Karena kemarahan yang tidak terkendali akan meninggalkan bekas, yang tidak dapat kita hapuskan. Hati terluka tidak pernah pergi begitu saja! Waktu tidak akan membawa kesembuhan lengkap kepada mereka. Setiap kali kita mengingat pengalaman tersebut, luka hati kita terasa kembali perih. Sementara kita berupaya membendung ingatan kita dan mencoba melupakannya, namun ia masih ada disana.
Tetapi kita dapat minta pertolongan Tuhan untuk menyembuhkan kita, melalui penderitaan Yesus dan dengan kuasa Roh Kudus,karena “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka ......”(2). Kita minta bantuan Roh Kudus, mengisi hati kita dengan kasih dan kuasa-Nya sehingga dapat melihat ingatan tersebut melalui kasih Allah dan dari perspektif kebenaran-Nya (3). (1) Jak. 1: 10; (2) Maz. 147:3; (3) Ep. 3: 18-19
Kata firman Tuhan: “Perhatikanlah ini baik-baik, Saudara-saudara yang tercinta! Setiap orang harus cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara dan lambat untuk marah” (1). Hal ini mutlak penting bagi orang Kristen dan hamba Tuhan. Karena kemarahan yang tidak terkendali akan meninggalkan bekas, yang tidak dapat kita hapuskan. Hati terluka tidak pernah pergi begitu saja! Waktu tidak akan membawa kesembuhan lengkap kepada mereka. Setiap kali kita mengingat pengalaman tersebut, luka hati kita terasa kembali perih. Sementara kita berupaya membendung ingatan kita dan mencoba melupakannya, namun ia masih ada disana.
Tetapi kita dapat minta pertolongan Tuhan untuk menyembuhkan kita, melalui penderitaan Yesus dan dengan kuasa Roh Kudus,karena “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka ......”(2). Kita minta bantuan Roh Kudus, mengisi hati kita dengan kasih dan kuasa-Nya sehingga dapat melihat ingatan tersebut melalui kasih Allah dan dari perspektif kebenaran-Nya (3). (1) Jak. 1: 10; (2) Maz. 147:3; (3) Ep. 3: 18-19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar